Artikel Terbaru
Komentar Terbaru
  • guest
    kreatif dan menarik untuk...
  • guest
    informasi yang menarik...
  • ems
    percobaan posting...
Other website

Tinggalkan Pesan

Industri Hilir untuk Antisipasi Tren Pasar

Pengembangan Industri Sawit Nasional (2-Habis)

INDONESIA sebagai produsen terbesar CPO harus menjadi acuan bagi negara lain, khususnya berhubungan dengan penerapan produksi yang lestari. Untuk mencapai tujuan itu  perlu dibangun kerja sama dengan para pemangku kepentingan industri sawit nasional.

Sebagian besar perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit secara sukarela terlibat dalam membangun prinsip dan kriteria produksi yang lestari atau berkelanjutan. Puluhan ribu dolar AS dikucurkan untuk meneliti dan membangun bisnis perkebunan lestari sebelum LSM asing dan Uni Eropa mempersoalkan.

Sebagai timbal baliknya, pemerintah diharapkan bersedia menginventarisasi, menyinkronkan, dan merevisi peraturan yang bertabrakan antara pusat dan daerah sebagai dampak pelaksanaan otonomi daerah serta ketidaksinkronan kementerian yang berkaitan dengan industri sawit.

Tujuannya adalah memudahkan penegakan hukum  dan peraturan, terutama yang berhubungan dengan kelestarian lingkungan dan praktik agronomi kelapa sawit yang terbaik. Setelah itu Indonesia perlu mempunyai standar perdagangan CPO yang diakui oleh lingkup internasional. Misalnya standar persyaratan kontrak jual-beli, spesifikasi, serta standar sertifikasi nasional.

Meski telah menjadi produsen CPO terbesar dunia melampaui Malaysia pada 2007, standar perdagangan kita masih mengacu pda The Palm Oil Refiners Association of Malaysia dan federation of Oils, Seeds, and Fats Association.

Supaya menjadi acuan harga CPO internasional, Indonesia wajib menggalakkan bursa komoditas agar pasar global tidak lagi bergantung pada Kuala Lumpur, Malaysia, serta Rotterdam, Belanda. Kita telah memiliki Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) yang bisa dioptimalkan untuk mengangkat komoditas CPO.

Namun, sebagai dukungan terhadap bursa komoditas tersebut kita juga memerlukan pelabuhan ekspor internasional sentral yang menjadi titik acuan pelabuhan ekspor lainnya. Untuk mewujudkan hal tersebut memang dibutuhkan waktu serta komitmen pemerintah dan pelaku usaha industri sawit nasional.

Pemerintah segera tanggap atas kebutuhan industri sawit nasional. Cetak biru pembangunan pertanian jangka panjang, termasuk di dalamnya perkebunan kelapa sawit akan segera dirumuskan. Tim perumus kebijakan itu dibentuk melalui surat keputusan (SK) Menteri Pertanian pada Desember tahun ini.
Pedoman Jelas Cetak biru tersebut memberikan pedoman yang jelas mengenai arah sektor sawit ke depan. Kelemahan cetak biru yang ada selama ini adalah tidak memiliki data akurat untuk memprediksi serta tak bisa dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan jangka panjang.

Cetak biru yang baru nanti selain berdasarkan data akurat yang diperoleh dari para pemangku kepentingan industri sawit nasional, akan memetakan kendala dan hambatan yang dihadapi oleh industri tersebut.

Kendala tersebut tidak hanya menyangkut masalah teknis perkebunan, antara lain peningkatan produktivitas dan kebutuhan lahan, tetapi juga persoalan nonteknis berupa perizinan serta masalah-masalah lainnya.

Penting juga bagi para pelaku industri sawit untuk memperhatikan permintaan pasar yang kian bervariasi. Dua tahun terakhir ada tren peralihan ke produk turunan, bukan lagi CPO sebagai komoditas. Dalam konteks ini, industri hilir wajib dikembangkan.
Ada tiga variasi produk. Pertama, minyak goreng yang makin beragam. China tidak hanya menggunakan minyak goreng sebagai produk tunggal, tetapi dikombinasikan sesuai dengan permintaan pasar. Ada minyak goreng tahan suhu dingin dan tinggi proteinnya.

Kedua, biofuel yang juga menjadi salah satu variasi produk; serta ketiga, oleochemical sebagai pengembangan CPO yang hingga kini telah lebih dari 150-an produk dengan karakter berbeda.

Ke depan, prospek sawit tetaplah cerah sebagai industri unggulan, tetapi tantangannya pun akan kian banyak dan berat, khususnya yang berhubungan dengan lingkungan. Sehubungan dengan itu ada beberapa hal yang bisa dilakukan.
Pertama, menyinkronkan berbagai regulasi yang berkaitan dengan tata ruang, investasi, serta lingkungan. Dengan cara demikian dipastikan tidak akan terjadi tabrakan kepentingan yang justru merugikan kita semua. Contohnya mengenai lahan yang boleh untuk pengembangan kelapa sawit.

Kedua, mendorong para pengusaha agar melibatkan masyarakat petani agar nilai tambah ekonominya terdistribusi. Data Sawit Watch menyebutkan dari 9,2 juta hektare lahan sawit di Tanah Air, hampir semua dikuasai oleh asing dan swasta nasional. Hanya sedikit yang dikuasai oleh petani yang berjumlah 2,5 juta orang.
Pelibatan itu diharapkan tidak bersifat semu melalui pola inti-plasma yang tidak berjalan mulus dan sering merugikan para petani. Perlu dicari pola yang lebih adil baik bagi petani maupun pelaku usaha.

Ketiga, secepatnya mengembangkan industri hilir untuk mengantisipasi tren permintaan pasar. Di samping memperluas cakupan industri sawit, dampak lainnya berupa nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.

Kita amat berharap industri sawit nasional bisa memenuhi harapan sebagai sektor unggulan nasional yang mampu memberikan kesejahteraan serta lebih penting lagi, bisa menghapus stigma sebagai perusak lingkungan. (Bambang Tri Subeno, wartawan Suara Merdeka di Semarang-29) 

Sumber : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/12/20/132942/-Industri-Hilir-untuk-Antisipasi-Tren-Pasar

Mon, 20 Dec 2010 @08:27
Tags: news berita


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 4+3+4

Copyright © 2017 Disperindag Prov Jateng
All Rights Reserved