Artikel Terbaru
Komentar Terbaru
  • guest
    kreatif dan menarik untuk...
  • guest
    informasi yang menarik...
  • ems
    percobaan posting...
Other website

Tinggalkan Pesan

Jateng Sulit Swasembada Gula

SEMARANG- Target Jateng untuk swasembada gula pada 2013 mendatang dengan jumlah produksi sebanyak 40.000 ton, sepertinya sulit terwujud. 

Pasalnya, anomali cuaca berkepanjangan menjadi kendala utama produksi gula kristal, yang membuat bahan baku rendemen tebu menjadi rendah. Akibatnya, target produksi tebu untuk 2010 yakni 280.000 ton pun tidak tercapai.
Menurut Kepala Dinas Perkebunan Jateng, Teguh Wynarno melalui Kasi Pemasaran Bidang Pengolahan Hasil Perkebunan Sudarsono, pada 2010 sebanyak 13 pabrik gula (PG) di Jateng hanya mampu memproduksi 237.651,70 ton gula. 

Produksi tersebut berasal dari PTPN IX sebanyak 127.261,8 ton, PG Trangkil 54.825,7 ton, PG Pakis Baru 25.632,02 ton, PG Cepiring 8.569 ton, PG Madu Kismo 14.883,18 ton, dan PG Tersana Baru 6.480 ton. 
Jumlah tersebut naik tipis dibandingkan 2009 hanya sebanyak 227.212 ton. “Pada 2011 ini, Dinas Perkebunan menargetkan produksi gula mencapai 330.000 ton. Sedangkan pada 2012 ditargetkan sebanyak 365.000 ton, dan 2013 menjadi 400.000 ton,” ujarnya.

Akibat hujan terus menerus turun maka rendemen atau kandungan gula (nira) dalam tebu pada tahun 2010 justru menurun dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 6,11 persen. Sementara pada 2009 rendemen mencapai sekitar 7 persen. “Rendemen terendah ada di PG Trangkil yakni 5,67 persen,” katanya, kemarin.

Luas Lahan

Selain cuaca, luas lahan perkebunan tebu yang masih kurang juga menjadi penyebab belum tercapainya target hasil produksi. Tahun 2010, Dinas Perkebunan Jateng baru memiliki 55.864,81 hektare kebun tebu dari target 56.204 hektare. Padahal, untuk mencapai swasembada gula, Jateng membutuhkan kebun tebu seluas 67.000 hektare tersebar di 26 kabupaten. 

“Tahun 2011 ini, luas kebun tebu ditargetkan dapat bertambah menjadi 63.000 hektare,” imbuh Sudarsono.
Ditambahkan, guna menutupi kebutuhan gula pada masa non giling yakni Januari hingga April, maka pemerintah mengimpor gula dari berbagai negara seperti India dan Jepang. Tahun 2010 pemerintah mengimpor gula sebanyak 62.000 ton.

Sekretaris Asosiasi Petani Tebu Indonesia, Priyono mengatakan, secara umum produksi gula pada 2010 lalu menurun. Penyebabnya, karena banyak curah hujan turun sepanjang tahun ini sehingga membuat rendemen tebu menurun drastis. Pada 2009 lalu, rendemen tebu cukup bagus yakni mencapai rata-rata 7,5 persen. Namun tahun ini rendemen rata-rata hanya berkisar 5,8 persen. “Curah hujan tinggi membuat target produksi sulit tercapai. Saya berharap ke depannya revitalisasi tebu pada 2011 benar-benar tercapai,” katanya. (J8,K14-52)

Sumber : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/01/07/134203/Jateng-Sulit-Swasembada-Gula-

Fri, 7 Jan 2011 @08:53
Tags: berita news


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 8+9+9

Copyright © 2017 Disperindag Prov Jateng
All Rights Reserved