Artikel Terbaru
Komentar Terbaru
  • guest
    kreatif dan menarik untuk...
  • guest
    informasi yang menarik...
  • ems
    percobaan posting...
Other website

Tinggalkan Pesan

Asuransi Pertanian Butuh Kajian Serius

SEMARANG- Rencana pemerintah menggulirkan asuransi pertanian dinilai masih belum bisa diterapkan, mengingat belum ada standarisasi yang jelas terhadap produk-produk pertanian dan perkebunan yang bisa diasuransikan. Untuk itu dibutuhkan kajian secara serius terhadap produk baru yang masih digodok tersebut agar tidak berujung pada asas ketidakmanfaatan bagi para petani.

Ketua Yayasan Obor Tani (Yabortan) Jateng Budi Dharmawan mengungkapkan, asuransi merupakan sebuah instrumen penjaminan yang canggih dengan standarisasi yang jelas. Menurutnya lebih banyak petani lokal yang masih jauh dari asuransi sehingga perlu kejelasan konsep asuransi seperti apa yang hendak ditawarkan. Jangan sampai asuransi tersebut malah menambah kemiskinan petani karena harus dibebani dengan iuran yang tidak jelas, sementara urusan klaim menuai masalah.

Budi menilai, bukan asuransi yang paling tepat tetapi lebih kepada penyuluhan intensif dengan pemberdayaan petani. Program ini sudah berjalan seperti yang dilakukan Yabortan di sejumlah wilayah. 

’’Dengan penyuluhan intensif diharapkan petani bisa memberikan produk berkualitas. Dari sinilah mereka sudah mempunyai kemampuan standar dengan penghasilan bagus, mungkin baru bisa diterapkan asuransi pertanian,’’ jelasnya, kemarin.
Bermanfaat Ketua Komisi Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (KP3K) Jateng Gatot Aji Sutopo menuturkan, asuransi pertanian jika memang bisa diimplementasikan dengan baik maka bisa bermanfaat bagi petani. Tapi masalahnya, indikasi kegagalan itu bermacam-macam ada serangan ringan, sedang hingga kegagalan yang paling berat, seperti cabai misalnya yang rusak karena faktor anomali cuaca.

’’Kalau asuransi hanya untuk yang masalah kategori berat saja, saya kira yang kategori sedang pun harus dapat asuransi. Sehingga dari sini mekanisme yang adil dan bermanfaat juga perlu dipikirkan seperti apa yang bisa mendapatkannya,’’ ungkap Gatot.

Dia menambahkan, para petani juga perlu sosialisasi tata cara asuransi. Berbeda dengan tanaman keras, jenis tanaman semusim, seperti misalnya padi palawijaya, hortikultura semusim, menurutnya perlu menjadi titik berat karena terbilang paling rentan. ’’Untuk kontrol jangan melalui perorangan akan lebih baik jika kelompok-kelompok tani diberdayakan,’’ katanya.

Gatot menilai, skim yang diterapkan lebih baik berupa bantuan teknis pasalnya sekarang kepemilikan lahan sempit. Rata-rata petani hanya memiliki 0,3 hektare, jarang yang mempunyai 1 hektare atau lebih. (J14-77) 

Tue, 1 Feb 2011 @12:02
Tags: news berita


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 3+4+1

Copyright © 2017 Disperindag Prov Jateng
All Rights Reserved